Posted by: muhammadz4enal | October 19, 2011

Transjakarta : Sistem transportasi umum yang menyedihkan

Jakarta, kota sejuta mimpi, segala kepentingan dari seluruh wilayah negara Indonesia tumpah ruah di Ibukota tercinta ini. Namun siapa sangka effek samping dari aktivitas sebagai Ibukota memaksa Jakarta menjadi Kota yang sibuk, padat, tercemar dan hilang keramahannya karena tergerus kepentingan pribadi masing-masing penghuninya.
Fenomena macet di jalan adalah kondisi wajib dalam kota Jakarta. pemakaian kendaraan pribadi (mobil atau sepeda motor) pun menjadi alternatif paling manusiawi untuk mobilitas di jakarta. Hal ini wajar karena dari pengalaman saya pribadi menggunakan transportasi umum kota Jakarta, dalam hal ini Bus Transjakarta, yaitu sarana transportasi unggulan yang di klaim menjadi solusi permasalahan kemacetan di Jakarta, ternyata tidak seperti yang kita bayangkan, bahkan dapat saya katakan sangat tidak manusiawi untuk sarana angkutan umum yang aman, nyaman dan cepat.
Berawal dari ketidak tersediaannya kendaraan pribadi yang saya gunakan sehari-hari dalam hal ini sepeda motor butut yang biasa saya gunakan untuk mobilitas sehari-hari sejak kuliah sampai kerja waktu itu, rusak yang tak berkesudahan (akibat tua dimakan usia). Alhasil mau tak mau saya harus menggunakan transportasi umum untuk bepergian di jakarta, seperti ke kantor yang berlokasi di daerah pancoran tebet jakarta selatan.

Ada banyak pilihan transportasi umum, namun semuanya tidak menyenangkan menurut saya, walau akhirnya saya harus memilih salah satu yang mendekati menyenangkan, yaitu Transjakarta yang memiliki Busway sehingga dapat meminimalisir kemacetan. Namun siapa sangka ternyata Transjakarta tidak luput dari parahnya kemacetan Jakarta, dan lebih parahnya sistem antrian, fasilitas halte, jumlah Bus, kondisi Bus dan Jalan ternyata sangat menyedihkan. Pernah suatu kejadian seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri (lebaran), Halte keberangkatan Busway di tempat saya naik penuh antrian karena banyak Bus belum datang, kabarnya terhambat macet di arah datang, tumpukan calon penumpang membludak, baik di dalam halte maupun di depan loket tiket, memicu kemarahan calon penumpang yang tidak rela menunggu sejak pagi, harus membeli tiket siang hari, karena tiket tidak dapat  dijual dengan alasan Bus masih akan lama datang, karena ada perbedaan harga tiket di waktu pagi di banding dengan siang hari (normal), cacian makian ke petugas pelayanan karcis pun di lontarkan bertubi-tubi, sambil terisak-isak menahan tangis petugas itu pun mencoba menjawab seraya membela diri,.. huffft, sedih bgt klo inget kejadian itu, saya sebagai calon penumpang sangat mengerti apa yang di alami para calon penumpang, tapi di sisi petugas tiket pun saya dapat mengerti karena dia hanya seorang petugas tingkat bawah yang bertindak sesuai instruksi atasan. Kemudian peristiwa adanya salah satu calon penumpang yg tiba-tiba masuk ke Bus yang saya tumpangi sambil mencaci maki sekuriti, entah mengapa sebabnya, ternyata mungkin calon penumpang tersebut merasa kesal karena tidak kebagian masuk Bus sebelumnya karena di halangi sekuriti yang mengatur para penumpang agar antri dengan tertib, padahal calon penumpang tersebut sudah terlambat atau apalah saya tidak tahu. Belum lagi antrian yang aneh di pintu untuk masuk ke dalam Bus, karena calon penumpang dibiarkan menumpuk tanpa antrian yang jelas dan kebanyakan calon penumpang di halte keberangkatan selalu mengincar tempat duduk sehingga ketika kursi penuh, yang di dipan pintu akan berhenti masuk dan menghalangi calon penumpang lainnya yang ingin masuk tanpa duduk alias berdiri, memang jika sedikit tentu tidak berpengaruh, namun jika banyak baru ada pengaruhnya, juga tentang fasilitas tempat duduk di Transjakarta yang tidak mencukupi dan jadi rebutan para penumpang sehingga ada istilah siapa cepat dia dapat, prioritas sudah tak lagi dihiraukan, kecuali orang yang benar-benar prioritas (orang hamil, cacat, orang sakit) itu pun kadang di paksa oleh petugas atau penumpang lain, bahkan ada ibu dan anak kecil (harusnya prioritas) malah tidak di prioritaskan untuk mendapatkan tempat duduk, dan keadian terakhir sebelum akhirnya saya putuskan untuk memakai kendaraan pribadi yang baru (motor baru mksdnya..hehe..), yaitu matinya AC di dalam Bus Transjakarta yang saya tumpangi,.. oh tuhan,,..kebayang kan dalam Bus yang bejejal, bertumpuk-tumpuk dikunci dalam bus dalam posisi macet, mau turn dan lompat gk bisa, berdiri pula,..aaarrrggghh… akhirnya para penumpak teriak kepanasan, pintu Bus pun dibuka di sepanjang jalan, sampai pada pemberhentian halte pertama, penumpang diminta untuk turun di halte tersebut untuk mengantri bus berikutnya, tapi apa yang terjadi, penumpang dan saya juga berfikir tidak tepat untuk keluar di halte tersebut karena sudah berjubel orang dalam halte tersebut, akhirnya pindah ke halte berikutnya, dan alhamdulillah akhirnya saya kebagian bus untuk kekantor juga. Dan banyak kejadian-kejadian menyedihkan lainnya.
Dengan banyaknya kejadian-kejadian yang saya alami itu saya sempat berfikir apakah ada solusi tepat untuk mengatasi hal ini, baik dari  pemerintah selaku penanggung jawab (pemberi layanan) dan masyarakat umum selaku pengguna (penerima layanan).
Ada beberapa pemikiran saya yang ingin saya sampaikan terkait tidak manusiawinya layanan Transportasi Umum Jakarta dalam hal ini Transjakarta, yaitu :

1. Perbaiki Pelayanan Bus secara general (penambahan armada Bus, Kualitas Bus, kenyamanan Halte, penempatan jalur/busway yang effektif, antrian karcis dan penumpang..dll)
2. Tata ulang Jalur Busway pada pertemuan/persimpangan dengan jalur umum agar tidak terkena macet, at least tidak terlalu lama macetnya.

Karena hal ini penting mengingat banyak halte Busway yang berada pada lokasi-lokasi macet, mungkin menghemat tempat, tapi efeknya menyusahkan Bus Trans Jakarta untuk keluar masuk kembali ke jalur khusus Busway karena ia harus cross over atau menyeberang jalur umum dan ikut bermacet ria.

3. Bedakan Antrian untuk penumpang yang ingin duduk dengan yang tidak perlu duduk, mungkin dengan membedakan (menjual) tiket dengan fasilitas duduk dan berdiri, biarlah harga tiket duduk lebih mahal sedikit dengan tiket berdiri, asal fasilitas jelas dan adil, berarti untuk orang-orang prioritas duduk (manula, bumil, cacat dll) harus membeli tiket ini atau ada kebijakan lain lah (solusi tekniksnya dibicarakan kemudian), atau jika tidak bisa,Mungkin bisa dbuatkan pagar antrian (seperti di Dufan Ancol) di dalam halte bus yang membedakan antrian duduk dengan antrian berdiri, agar tidak berdesak-desakan dan menghalangi orang yang mau masuk dengan  fasilitas berdiri.

poin 3  ini penting karena yang saya alami, umumnya di halte awal keberangkatan orang berhenti masuk Bus karena tempat duduk sudah penuh dan untuk menminimalisir perebutan kursi kekuasaan,..hehe..fasilitas kursi Bus mksudnya…:P

Mudah-mudahan bermanfaat..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: